Sinarnarasi.com — Di tengah kondisi pasar otomotif yang belum sepenuhnya pulih, perusahaan pembiayaan atau multifinance memilih untuk tetap melangkah maju dengan menyiapkan strategi ekspansi yang terukur. Lesunya penjualan kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, tidak serta-merta membuat pelaku industri pembiayaan mengerem rencana pertumbuhan. Sebaliknya, situasi ini justru dimanfaatkan untuk memperkuat fondasi bisnis, memperluas portofolio pembiayaan, serta meningkatkan efisiensi operasional.
Sejumlah pelaku multifinance menilai perlambatan pasar otomotif bersifat siklikal. Daya beli masyarakat yang tertekan, kenaikan harga kendaraan, serta sikap konsumen yang cenderung menunda pembelian menjadi faktor utama sepinya pasar. Namun, kebutuhan pembiayaan dinilai tidak hilang, melainkan bergeser. Kondisi ini mendorong perusahaan pembiayaan untuk lebih adaptif dalam membaca peluang.
Salah satu langkah ekspansi yang disiapkan adalah diversifikasi produk. Jika sebelumnya pembiayaan kendaraan bermotor menjadi tulang punggung, kini multifinance mulai menggenjot pembiayaan non-otomotif. Pembiayaan alat berat, mesin industri, pembiayaan multiguna, hingga pembiayaan berbasis produktif untuk usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi fokus baru. Segmen ini dinilai memiliki potensi pertumbuhan yang relatif stabil, seiring dengan tetap berjalannya aktivitas ekonomi di sektor riil.
Selain diversifikasi, ekspansi juga dilakukan melalui penguatan jaringan distribusi. Beberapa multifinance tetap membuka kantor cabang atau titik layanan baru, terutama di daerah yang memiliki aktivitas ekonomi tinggi namun penetrasi pembiayaannya masih rendah. Ekspansi wilayah ini dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan profil risiko, potensi pasar, serta kesiapan infrastruktur digital.
Transformasi digital menjadi strategi penting lainnya. Di tengah pasar yang melambat, efisiensi menjadi kunci. Multifinance berlomba-lomba mengembangkan layanan digital, mulai dari pengajuan pembiayaan secara online, penggunaan tanda tangan elektronik, hingga pemanfaatan data analytics untuk penilaian kredit. Digitalisasi tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga mempercepat proses layanan dan meningkatkan pengalaman nasabah. Dari sisi manajemen risiko, perusahaan pembiayaan cenderung lebih berhati-hati. Meski menyiapkan ekspansi, kualitas pembiayaan tetap menjadi prioritas utama. Multifinance memperketat proses seleksi debitur, meningkatkan pemantauan portofolio, serta memperkuat strategi penagihan. Langkah ini penting untuk menjaga rasio pembiayaan bermasalah tetap terkendali di tengah ketidakpastian ekonomi.
Pelaku industri juga melihat peluang dari perubahan tren konsumen. Meningkatnya minat terhadap kendaraan bekas, misalnya, membuka ruang pembiayaan yang cukup besar. Harga yang lebih terjangkau membuat segmen ini tetap diminati, meskipun penjualan kendaraan baru melambat. Multifinance pun menyesuaikan skema pembiayaan agar lebih fleksibel dan kompetitif. Di sisi lain, kolaborasi dengan berbagai mitra menjadi bagian dari strategi ekspansi. Multifinance menjalin kerja sama dengan dealer, platform digital, hingga perusahaan rintisan untuk memperluas jangkauan pasar. Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih kuat dan saling menguntungkan.
Meski pasar otomotif masih sepi, optimisme tetap terjaga. Pelaku multifinance meyakini bahwa dengan strategi yang tepat, perusahaan tetap dapat tumbuh secara berkelanjutan. Ekspansi yang dilakukan bukan semata-mata mengejar volume, melainkan kualitas pertumbuhan. Dengan fondasi bisnis yang lebih kuat, diversifikasi portofolio, serta dukungan teknologi, multifinance berharap dapat lebih siap ketika pasar otomotif kembali bergairah. Pada akhirnya, kondisi pasar yang menantang justru menjadi ujian sekaligus peluang. Multifinance yang mampu beradaptasi, berinovasi, dan menjaga disiplin risiko diyakini akan keluar dari fase perlambatan ini dengan posisi yang lebih kokoh dan kompetitif.