Lagi Fomo, Deretan Artis RI dan Luar Negeri Ikut Berburu Kartu Pokemon

Sinar NarasiTren kartu Pokémon Trading Card Game kembali mengalami lonjakan popularitas secara global. Fenomena ini tak hanya terjadi di kalangan kolektor, tetapi juga merambah ke dunia hiburan, dengan deretan artis Indonesia hingga selebritas internasional ikut berburu kartu langka. Kondisi ini memicu gelombang “fear of missing out” (FOMO) yang semakin memperkuat hype di pasar koleksi.

Dalam beberapa bulan terakhir, aktivitas jual beli dan koleksi kartu Pokémon meningkat signifikan, baik secara offline melalui event komunitas maupun online lewat platform digital. Di Indonesia, berbagai festival kartu dan komunitas kolektor mulai ramai kembali, mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap hobi yang sempat booming di era 1990-an hingga awal 2000-an.

Salah satu faktor utama yang mendorong tren ini adalah keterlibatan figur publik. Sejumlah artis terlihat membagikan aktivitas mereka saat membuka paket kartu atau berburu koleksi langka di media sosial. Fenomena ini membuat kartu Pokémon kembali relevan di kalangan generasi muda.

Di Indonesia, tren ini turut diperkuat oleh kolaborasi brand dengan figur publik. Salah satunya adalah keterlibatan Freya Jayawardana yang sempat tampil dalam kampanye Pokémon TCG, memperluas jangkauan pasar ke kalangan penggemar idol dan generasi digital.

Sementara itu, di tingkat global, sejumlah selebritas ternama juga ikut mempopulerkan kembali fenomena ini. Bahkan, dalam kampanye besar yang diluncurkan pada 2026, nama-nama seperti Lady Gaga, Trevor Noah, dan Jisoo turut terlibat dalam promosi yang berkaitan dengan dunia Pokémon.

Keterlibatan para selebritas ini secara tidak langsung meningkatkan daya tarik kartu Pokémon, tidak hanya sebagai permainan, tetapi juga sebagai simbol gaya hidup dan investasi.

Fenomena FOMO menjadi salah satu pendorong utama melonjaknya tren ini. Banyak penggemar yang merasa perlu ikut mengoleksi kartu Pokémon karena melihat popularitasnya di media sosial.

Konten seperti “unboxing” atau pembukaan paket kartu menjadi sangat populer di platform seperti TikTok dan YouTube. Aktivitas ini bahkan berkembang menjadi hiburan tersendiri, di mana penonton ikut merasakan ketegangan saat menunggu kartu langka muncul.

Menurut berbagai laporan komunitas, tren ini juga memicu peningkatan transaksi kartu langka dengan harga fantastis. Beberapa kartu bahkan bisa terjual hingga jutaan dolar, menjadikannya salah satu koleksi paling bernilai di dunia.

Salah satu contoh paling mencolok adalah kartu “Pikachu Illustrator” yang pernah terjual hingga puluhan juta dolar, menegaskan nilai tinggi dalam pasar koleksi ini.

Di Indonesia, kebangkitan tren ini terlihat dari semakin banyaknya event komunitas kartu. Festival seperti pameran kartu dan turnamen lokal kembali digelar dengan antusiasme tinggi.

Acara seperti Indonesia Card Festival dan berbagai bazar kolektor menjadi tempat berkumpulnya penggemar dari berbagai kalangan. Selain transaksi jual beli, event ini juga menjadi ajang edukasi bagi kolektor baru yang ingin memahami nilai dan keaslian kartu.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kartu Pokémon tidak hanya sekadar permainan, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari budaya pop modern yang melibatkan komunitas global.

Meski menawarkan peluang besar, tren ini juga memiliki sisi risiko. Lonjakan harga kartu sering kali dipengaruhi oleh hype, sehingga tidak selalu mencerminkan nilai jangka panjang.

Beberapa kolektor berpengalaman mengingatkan bahwa pasar kartu Pokémon bersifat fluktuatif. Harga bisa melonjak drastis dalam waktu singkat, tetapi juga berpotensi turun jika minat pasar menurun.

Selain itu, maraknya permintaan juga membuka peluang bagi praktik penipuan. Kasus seperti kartu palsu, paket yang telah dibuka ulang, hingga transaksi fiktif menjadi tantangan tersendiri dalam industri ini.

Kebangkitan tren kartu Pokémon juga didorong oleh faktor nostalgia. Banyak orang dewasa yang kembali mengoleksi kartu karena ingin menghidupkan kembali kenangan masa kecil mereka.

Di sisi lain, generasi baru juga ikut tertarik berkat pengaruh media sosial dan figur publik. Kombinasi antara nostalgia dan tren digital ini menciptakan pasar yang sangat kuat dan luas.

Perayaan 30 tahun Pokémon pada 2026 juga menjadi momentum penting yang semakin memperkuat popularitas brand ini di seluruh dunia. Kampanye global yang melibatkan berbagai selebritas dan event komunitas berhasil menarik perhatian lintas generasi.

Bagi sebagian orang, mengoleksi kartu Pokémon kini bukan sekadar hobi, tetapi juga bentuk investasi. Kartu langka dengan kondisi sempurna dapat memiliki nilai yang terus meningkat seiring waktu.

Namun, para ahli menyarankan agar kolektor tetap berhati-hati dan tidak hanya mengikuti tren. Pemahaman terhadap pasar, keaslian kartu, serta reputasi penjual menjadi faktor penting dalam menentukan nilai investasi.

Tren kartu Pokémon yang kembali booming menunjukkan bagaimana budaya pop dapat terus berevolusi dan relevan di berbagai generasi. Keterlibatan artis Indonesia dan dunia menjadi katalis yang mempercepat penyebaran tren ini secara global.

Di tengah fenomena FOMO yang semakin kuat, para kolektor dan penggemar diharapkan tetap bijak dalam mengikuti tren. Baik sebagai hobi maupun investasi, kartu Pokémon tetap menawarkan daya tarik unik yang sulit tergantikan.

Dengan dukungan komunitas, event, dan inovasi digital, tren ini diprediksi masih akan terus berkembang dalam beberapa tahun ke depan, menjadikan kartu Pokémon sebagai salah satu ikon budaya pop paling berpengaruh di dunia saat ini.