Sinarnarasi.com — Banyak mitos yang beredar di masyarakat mengenai hewan peliharaan, salah satunya adalah anggapan bahwa memelihara kucing bisa menyebabkan seseorang menjadi mandul. Mitos ini kerap membuat orang ragu untuk memelihara kucing, terutama bagi mereka yang ingin memiliki anak di masa depan. Namun, benarkah hal ini fakta atau hanya kesalahpahaman yang berkembang dari cerita turun-temurun?
Secara ilmiah, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa memelihara kucing secara langsung menyebabkan kemandulan pada pria atau wanita. Kemandulan adalah kondisi medis yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti masalah hormon, infeksi tertentu, gaya hidup, pola makan, faktor genetik, atau kondisi kesehatan lainnya. Tidak ada penelitian medis yang menemukan hubungan langsung antara interaksi dengan kucing dan ketidakmampuan seseorang untuk memiliki anak.
Mitos ini kemungkinan besar muncul karena adanya kaitan antara kucing dan penyakit tertentu yang berpotensi berbahaya bagi kehamilan, khususnya toksoplasmosis. Toksoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit Toxoplasma gondii, yang bisa ditemukan pada kotoran kucing, tanah, atau makanan yang tidak dimasak dengan baik. Infeksi ini bisa berbahaya terutama bagi wanita hamil karena dapat memengaruhi janin, tetapi tidak menyebabkan kemandulan pada orang dewasa yang sehat. Jadi, ketakutan terhadap kemandulan sebenarnya merupakan kesalahpahaman.
Selain itu, kebersihan dan cara memelihara kucing berperan penting dalam mencegah risiko penyakit. Dengan melakukan beberapa langkah sederhana, risiko infeksi dari kucing bisa diminimalkan. Misalnya, rutin membersihkan kotak pasir kucing dengan sarung tangan, mencuci tangan setelah memegang kucing atau membersihkan kotorannya, serta memastikan makanan kucing aman dan higienis. Kucing yang dirawat dengan baik dan rutin dibawa ke dokter hewan untuk vaksinasi serta pemeriksaan kesehatan juga cenderung lebih aman bagi pemiliknya.
Penting juga untuk memahami bahwa kucing adalah hewan yang bersahabat dan bisa memberikan banyak manfaat psikologis. Studi menunjukkan bahwa interaksi dengan kucing dapat mengurangi stres, meningkatkan mood, dan memberikan rasa nyaman bagi pemiliknya. Manfaat ini justru mendukung kesehatan secara keseluruhan, yang secara tidak langsung juga bisa berkontribusi pada kesehatan reproduksi. Stres yang tinggi, misalnya, memang dapat memengaruhi kesuburan, sehingga kucing yang membuat pemiliknya lebih rileks bisa jadi justru membantu kondisi tubuh tetap sehat.
Kesalahpahaman tentang kemandulan akibat kucing mungkin juga diperkuat oleh cerita dari orang-orang yang mengalami kesulitan memiliki anak dan juga memelihara kucing. Namun, ini hanyalah kebetulan atau faktor lain yang sebenarnya lebih berperan. Mengaitkan kemandulan langsung dengan kucing adalah bentuk logika yang tidak didukung bukti ilmiah.
Kesimpulannya, pelihara kucing tidak menyebabkan kemandulan. Yang perlu diperhatikan adalah menjaga kebersihan, merawat kucing dengan baik, dan memahami risiko penyakit tertentu yang bisa diminimalkan dengan langkah preventif. Mitos ini lebih banyak bersumber dari cerita lama dan ketakutan tanpa dasar ilmiah, bukan dari fakta medis. Dengan pemahaman yang benar, memelihara kucing justru bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, menyehatkan secara psikologis, dan aman bagi kehidupan keluarga.