Kucing Susah Pipis? Kenali Gejala dan Penyebab FLUTD

Sinarnarasi.com — Kucing merupakan hewan yang cenderung menutup-nutupi rasa sakit atau ketidaknyamanannya. Karena itu, pemilik kucing harus selalu waspada terhadap perubahan perilaku yang mungkin menandakan masalah kesehatan. Salah satu masalah yang cukup serius dan sering terjadi pada kucing adalah kesulitan buang air kecil, yang dalam dunia medis dikenal sebagai FLUTD atau Feline Lower Urinary Tract Disease. Gangguan ini bisa menjadi kondisi darurat jika tidak segera ditangani, sehingga pemahaman terhadap gejala dan penyebabnya sangat penting.

Gejala Kucing Susah Pipis

Kucing yang mengalami FLUTD biasanya menunjukkan perubahan perilaku saat buang air kecil. Salah satu tanda yang paling umum adalah sering mencoba buang air kecil tetapi hanya sedikit urine yang keluar atau bahkan tidak sama sekali. Pemilik mungkin akan melihat kucing mengeluarkan suara kesakitan ketika mencoba pipis, terlihat tegang, atau sering mengunjungi kotak pasir tanpa hasil yang memuaskan. Selain itu, kucing dapat mengalami hematuria, yaitu urine yang bercampur dengan darah, yang membuat urine terlihat merah muda atau cokelat kemerahan.

Selain gejala fisik, perilaku kucing juga bisa berubah. Kucing yang merasa tidak nyaman saat buang air kecil bisa menjadi lebih gelisah, sering menjilati area genital, atau menghindari kotak pasir sama sekali. Beberapa kucing juga menunjukkan perubahan suasana hati, seperti menjadi lebih agresif, rewel, atau justru menarik diri dari interaksi dengan pemilik. Pada kasus yang lebih serius, kucing bisa mengalami muntah, lesu, atau kehilangan nafsu makan.

Penyebab FLUTD

FLUTD sebenarnya bukan satu penyakit tunggal, melainkan istilah umum untuk berbagai gangguan pada saluran kemih bagian bawah kucing. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari faktor fisik hingga perilaku. Salah satu penyebab paling umum adalah batu saluran kemih, yang terbentuk dari mineral seperti struvit atau kalsium oksalat. Batu ini dapat menyumbat saluran kemih, sehingga kucing sulit atau bahkan tidak bisa buang air kecil.

Selain batu, feline idiopathic cystitis adalah penyebab lain yang sering ditemui. Kondisi ini terjadi ketika dinding kandung kemih mengalami peradangan tanpa penyebab infeksi yang jelas. Stres juga dianggap sebagai faktor pemicu kondisi ini. Kucing yang mengalami perubahan lingkungan, seperti pindah rumah, kedatangan anggota keluarga baru, atau perubahan rutinitas, bisa lebih rentan mengalami idiopathic cystitis.

Infeksi bakteri pada saluran kemih juga bisa menyebabkan FLUTD, meskipun lebih jarang dibandingkan dengan manusia. Infeksi ini biasanya menimbulkan gejala seperti sering buang air kecil, nyeri saat buang air kecil, dan urine yang berbau tidak sedap. Selain itu, obesitas dan pola makan yang kurang tepat juga dapat meningkatkan risiko kucing mengalami gangguan saluran kemih. Kucing yang jarang minum air atau terlalu banyak mengonsumsi makanan kering cenderung lebih mudah mengalami kristal urin atau pembentukan batu.

Faktor genetik juga bisa berperan, terutama pada ras kucing tertentu yang lebih rentan terhadap pembentukan batu saluran kemih. Aktivitas fisik yang rendah dan kebiasaan menahan buang air kecil juga bisa memperburuk kondisi ini. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kucing yang sering menahan pipis karena stres atau kotak pasir yang kotor memiliki risiko lebih tinggi mengalami FLUTD.

Dampak dan Bahaya Jika Tidak Ditangani

Kesulitan buang air kecil pada kucing bukan sekadar ketidaknyamanan. Jika saluran kemih tersumbat, kucing bisa mengalami retensi urin akut, yaitu kondisi di mana urine menumpuk di kandung kemih tanpa jalan keluar. Hal ini bisa menyebabkan pembengkakan kandung kemih, kerusakan ginjal, hingga keracunan darah karena penumpukan zat sisa metabolisme. Kondisi ini merupakan darurat medis dan membutuhkan tindakan segera dari dokter hewan.

Selain itu, kucing yang terus-menerus menahan buang air kecil juga bisa mengalami stres kronis. Stres ini tidak hanya memperburuk kondisi saluran kemih, tetapi juga dapat memengaruhi perilaku dan kesehatan secara keseluruhan. Kucing yang stres cenderung menjadi lebih agresif atau menarik diri dari interaksi sosial, yang bisa memengaruhi hubungan dengan pemilik.

Langkah Pencegahan dan Perawatan

Pencegahan selalu lebih baik daripada mengobati. Untuk mencegah FLUTD, pemilik kucing harus memastikan kucing selalu memiliki akses ke air bersih yang cukup. Memberikan makanan basah secara teratur juga bisa membantu menjaga kandungan air dalam tubuh kucing, sehingga mengurangi risiko pembentukan kristal urin. Menjaga kebersihan kotak pasir dan menyediakan beberapa kotak pasir di rumah juga penting, terutama jika ada lebih dari satu kucing.

Mengurangi stres pada kucing juga merupakan langkah penting. Memberikan lingkungan yang nyaman, rutinitas yang konsisten, dan area aman untuk bermain dapat membantu mencegah idiopathic cystitis. Beberapa kucing juga merespons baik pada terapi lingkungan, seperti pheromone diffuser yang dapat menenangkan mereka.

Jika kucing menunjukkan gejala kesulitan buang air kecil, segera konsultasikan dengan dokter hewan. Diagnosis biasanya melibatkan pemeriksaan fisik, analisis urine, dan pemeriksaan radiologi untuk mendeteksi batu atau penyumbatan. Perawatan bisa berupa pemberian obat, penanganan batu saluran kemih, atau tindakan bedah jika diperlukan. Dalam kasus darurat dengan saluran kemih tersumbat, tindakan cepat sangat penting untuk menyelamatkan nyawa kucing.

Kucing yang kesulitan buang air kecil bisa menjadi tanda adanya FLUTD, kondisi serius yang memerlukan perhatian. Gejala seperti sering mencoba pipis tetapi sedikit urine keluar, urine bercampur darah, nyeri saat buang air kecil, dan perubahan perilaku harus segera diperhatikan. Penyebabnya beragam, mulai dari batu saluran kemih, idiopathic cystitis, infeksi bakteri, hingga faktor stres dan pola makan.

Pencegahan meliputi pemberian air yang cukup, makanan basah, kebersihan kotak pasir, serta pengelolaan stres kucing. Jika gejala muncul, segera bawa kucing ke dokter hewan untuk diagnosis dan penanganan yang tepat. Menangani FLUTD sejak awal tidak hanya mencegah komplikasi serius tetapi juga menjaga kualitas hidup kucing agar tetap sehat dan nyaman. Memahami gejala dan penyebab FLUTD adalah langkah pertama dalam memberikan perawatan terbaik bagi sahabat berbulu yang kita cintai.