Toyota Harap Insentif Otomotif Berlanjut di 2026

Sinarnarasi.com — PT Toyota Astra Motor (TAM), salah satu pemain otomotif terbesar di Indonesia, menyatakan harapannya agar pemerintah dapat melanjutkan kebijakan insentif otomotif pada tahun 2026. Harapan ini muncul sebagai respons atas tekanan yang masih dirasakan pasar otomotif nasional setelah kinerja penjualan sepanjang 2025 menunjukkan penurunan signifikan. Toyota melihat kelanjutan insentif sebagai elemen penting untuk mempercepat pemulihan pasar, menstimulasi permintaan, dan mendukung pertumbuhan industri secara keseluruhan di tahun mendatang.

Tekanan Pasar dan Penurunan Penjualan di 2025

Menjelang akhir 2025, data menunjukkan bahwa penjualan mobil baru di Indonesia mengalami kontraksi dibandingkan tahun sebelumnya. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat angka penjualan ritel sepanjang Januari–November 2025 mencapai 739.977 unit, turun sekitar 8,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan wholesales juga melemah hampir 10 persen year-on-year. Kondisi ini mencerminkan tekanan permintaan yang masih terasa bagi produsen dan jaringan dealer di seluruh negeri. Dalam situasi pasar yang lesu, Toyota dan pelaku industri lainnya melihat insentif fiskal dari pemerintah sebagai salah satu alat untuk membantu mengembalikan daya beli konsumen dan menstimulasi pembelian kendaraan. Tanpa dukungan tersebut, harga jual kendaraan akan tetap pada level yang relatif tinggi, yang dapat menghambat daya beli masyarakat terutama di segmen mobil penumpang yang masih menjadi kontributor utama volume penjualan.

Peran Insentif dalam Struktur Harga Kendaraan

Toyota menekankan bahwa kebijakan insentif yang terkait dengan komponen pajak memiliki dampak langsung terhadap harga jual kendaraan. Pajak seperti Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) serta bea masuk kendaraan merupakan bagian signifikan dari struktur biaya sebuah mobil. Ketika insentif fiskal berlaku seperti pembebasan PPnBM atau pengurangan bea masuk untuk kendaraan tertentu harga jual mobil yang ditawarkan ke konsumen bisa lebih kompetitif. Ini terbukti secara nyata ketika pemerintah memberikan insentif untuk mobil listrik dan hybrid di masa sebelumnya, di mana insentif ini membantu menahan kenaikan harga jual meskipun terjadi tekanan biaya di sisi produksi. Insentif juga telah pernah diterapkan dalam berbagai bentuk. Misalnya, pembebasan bea masuk untuk kendaraan listrik jenis CBU atau diskon PPnBM untuk mobil hybrid. Kebijakan seperti ini tidak hanya mendorong pembelian kendaraan baru, tetapi juga memberi ruang bagi produsen untuk merombak strategi harga, menjaga daya saing model-model tertentu, dan memperluas pangsa pasar segmen teknologi baru seperti elektrifikasi.

Harapan Toyota atas Kebijakan 2026

Direktur Marketing TAM, Jap Ernando Demily, menyampaikan optimisme Toyota meskipun tantangan pasar tetap ada. Ia menekankan bahwa pemulihan industri otomotif tidak dapat dilakukan oleh produsen sendiri, tetapi membutuhkan kolaborasi erat dengan pemerintah, regulator dan seluruh stakeholder industri. Toyota berharap bahwa pemerintah akan mengambil inisiatif baru yang relevan untuk mempercepat upaya pemulihan di sektor otomotif Indonesia. Menurut Toyota, insentif bukan hanya soal keringanan fiskal semata, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk menciptakan pasar otomotif yang lebih sehat dan berkelanjutan. Dengan struktur pajak yang mendukung, produsen memiliki fleksibilitas untuk menyusun harga jual yang lebih menarik bagi konsumen, khususnya di segmen kendaraan ramah lingkungan seperti hybrid dan listrik. Hal ini dapat berdampak positif pada permintaan konsumen yang mulai mencari opsi kendaraan selain mesin konvensional.

Tantangan Regulasi dan Kepastian Kebijakan

Meski harapan insentif ini telah disampaikan kepada pemerintah khususnya kepada Kementerian Keuangan melalui usulan yang diajukan oleh Kementerian Perindustrian hingga awal 2026 belum ada kepastian resmi mengenai kelanjutan kebijakan tersebut. Beberapa pihak di pemerintahan memang telah mengevaluasi rencana stimulus untuk sektor otomotif, namun keputusan final terkait besaran, durasi, dan fokus insentif masih dalam tahap pembahasan. Ketiadaan kepastian ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi industri. Produsen otomotif seperti Toyota harus merespons dengan hati-hati dalam perencanaan produksi, penetapan harga, dan strategi pemasaran mereka, terutama ketika konsumen menunggu kejelasan mengenai program fiskal yang dapat mempengaruhi keputusan pembelian mereka.

Peran Insentif dalam Pendorong Pertumbuhan Ekonomi

Lebih luas lagi, pemberian insentif otomotif memiliki potensi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Studi ekonomi menunjukkan bahwa insentif berbasis kandungan lokalmisalnya insentif yang terkait dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dapat memberikan dampak positif pada PDB dan penciptaan lapangan kerja. Insentif semacam ini tidak hanya memacu penjualan kendaraan, tetapi juga memperluas rantai pasok lokal melalui peningkatan penggunaan komponen lokal dalam produksi. Simulasi menunjukkan bahwa dengan kebijakan insentif yang efektif, output industri otomotif bisa meningkat beberapa persen pada 2026 dan lebih tinggi lagi di tahun-tahun berikutnya. Ini akan mendorong pertumbuhan lapangan kerja, dari sisi produksi dan distribusi, serta memperkuat pondasi industri otomotif nasional dalam jangka panjang.

Potensi Risiko dan Alternatif Kebijakan

Namun perlu dicatat, kelangsungan pemberian insentif bukan tanpa risiko atau tantangan. Kebijakan fiskal yang terlalu longgar bisa menimbulkan tekanan terhadap pendapatan negara, terutama jika insentif diberikan luas tanpa target yang jelas. Karena itu, penting bagi pemerintah merancang skema insentif yang tepat sasaran misalnya fokus pada kendaraan berteknologi rendah emisi, atau produsen yang mampu memenuhi target kandungan lokal. Kebijakan berbasis kinerja seperti pemberian insentif bagi produsen yang meningkatkan investasi atau memperluas fasilitas produksi lokal dapat menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan. Selain itu, insentif non-fiskal, seperti dukungan terhadap penelitian dan pengembangan teknologi baru, pelatihan tenaga kerja, dan fasilitas logistik, juga bisa membantu industri otomotif bertumbuh secara kompetitif tanpa semata bergantung pada keringanan pajak.

Harapan Toyota dan Masa Depan Industri

Toyota berharap bahwa insentif otomotif berlanjut di 2026 bukan semata untuk membantu performa penjualan tahunan, tetapi juga untuk memperkuat fondasi industri otomotif Indonesia secara jangka panjang. Insentif yang tepat dapat membantu menstabilkan pasar, menarik konsumen, menjaga daya saing produk lokal, dan memperluas penggunaan teknologi rendah emisi. Namun, keberhasilan implementasi kebijakan ini sangat bergantung pada kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri serta perumusan kebijakan yang tepat sasaran. Jika disusun dengan matang, rangkaian insentif otomotif di 2026 memiliki potensi untuk menjadi katalis pertumbuhan pasar yang signifikan, sekaligus mendorong industri otomotif nasional menuju masa depan yang lebih berkelanjutan dan kompetitif.